Kamis, 22 Desember 2011

ASKEP OMA, OMK & MANNER DISEASE


OTITIS MEDIA AKUT (OMA), OTITIS MEDIA KRONIK (OMK) dan MANNER DISEASE

A. Anatomi Telinga Tengah

            Telinga tengah tersusun atas membrana timpani di sebelah lateral dan kapsul otik di sebelah medial. Celah telinga tengah terletak di antara keduanya. Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis auditorius eksternus dan menandai batas lateral telinga tengah. Telinga tengah merupakan rongga berisi udara yang merupakan rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dan dihubungkan dengan tuba eustachii ke nasofaring. Telinga tengah terdiri atas 3 osikuli, yaitu malleus, incus dan stapes. Ada 2 jendela kecil (jendela oval dan bulat) di dinding medial telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. BAgian dataran kaki stapes, menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantarkan ke telinga tengah. Jendela bulat memberikan jalan ke luar getaran suara.
            Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1 mm dan panjangnya sekitar 35 mm, menghubungkan telinga tengah ke nasofaring. Normalnya tuba eustachii selalu tertutup, namun dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver valsava atau dengan menguap dan menelan. Tuba bertindak sebagai saluran drainase untuk sekresi normal dan abnormal telinga tengah dan menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan di atmosfer.
B. Otitis Media Akut (OMA)
1.    Pengertian Otitis Media Akut (OMA)

            Otitis Media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustachii, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media akut (OMA) adalah peradangan akut sebagian atau seluruh periosteum telinga tengah atau infeksi telinga telinga tengah yang disebabkan oleh bakteri atau virus. Otitis media akut terjadi karena faktor pertahanan tubuh yang menurun. Sumbatan tuba eustachii merupakan faktor penyebab utama dari  otitis media, sehingga kuman masuk dalam telinga tengah dan terjadi peradangan. Kuman penyebab utama pada OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus, Staphylococcus aureus, Pneumococcus. Selain itu, kadang-kadang juga hemofilus influenza, E. coli, Streptococcus anhemoliticus, Proteus vulgaris dan pseudomonas aerugenosa. Sedangkan Hemofilus influenza sering ditemukan pada anak-anak.
OMA ditandai oleh :
a.       Infeksi oleh mikroorganisme
b.      Terasa penuh dalam telinga, sakit, hilang pendengaran

2.    Ptofisiologi Otitis Media Kronik (OMA)

            Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke dalam telinga tengah tersebut oleh silia mukosa tuba eustachii, enzim dan antibodi. Seperti diketahui bahwa OMA dapat terjadi karena infeksi saluran nafas atas yang menginvasi telinga tengah melalui tuba eustachii. Pada bayi, makin sering terserang infeksi saluran nafas atas makin besar terjadinya OMA.
                        Pada OMA terjadi keadaaan yang patologis di mukosa yang melapisi tuba eustachii, telinga tengah dan sel mastoid, di mana terkumpul sekret, terjadi kerusakan silia sehinnga tidak dapat mengalirkan sekret menuju tuba eustachii. Adanya kumpulan mukus di telinga tengah mengakibatkan tekanannya meningkat, membrana timpani meradang dan menonjol. Tekanan yang tinggi akan mempengaruhi pembuluh darah membrana timpani. Selanjutnya timbul nekrosis iskemik sehingga terjadi perforasi dan keluar pus.


3.    Gejala Klinis Otitis Media Akut (OMA)

            Gejala klinis otitis media akut tergantung dari stadium penyakit dan umur penderita. Gejala stadium supurasi berupa demam tinggi dan suhu tubuh menurun pada stadium prforasi. Gejala klinis otitis media akut (OMA) berdasarkan umur penderita, yaitu :

a.    Bayi dan anak kecil
Gejalanya : demam tinggi bisa sampai 39 0C (khas), sulit tidur, tiba-tiba menjerit saat tidur, mencret, kejang-kejang dan kadang-kadang memegang telinga yang sakit.

b.    Anak yang sudah bisa bicara
Gejalanya : biasanya rasa nyeri dalam telinga, suhu tubuh tinggi dan riwayat batuk pilek.

c.    Anak lebih besar dan orang dewasa
Gejalanya : rasa nyeri dan gangguan pendengaran (rasa penuh dan pendengaran berkurang).
Stadium OMA berdasarkan perubahan mukosa telinga yaitu :
a.    Stadium Oklusi Tuba Eustachii
            Terdapat gambaran retraksi membrana timpani akibat tekanan negatif di dalam telinga tengah. Kadang berwarna normal atau keruh pucat. Efusi tidak dapat dideteksi. Sukar dibedakan dengan otitis media serosa akibat virus atau alergi.
b.    Stadium Hiperemis(presupurasi)
            Tampak pembuluh darah yang melebar di membrana timpani atau seluruh membrana timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat serosa sehingga sulit terlihat.
c.    Stadium Supurasi
            Membrana timpani menonjol ke arah telinga luar akibat edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel superfisial, serta terbentuknya eksudat purulen pada kavum timpani. Pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat serta nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan tidak berkurang, akan terjadi iskemia, tromoflebitis dan nekrosis mukosa serta submukosa. Nekrosis ini terlihat seperti daerah yang lebih lembek kekuningan pada membrana timpani.
d.   Stadium Perforasi
            Karena pemberian antibiotik yang terlambat atau virulensi kuman yang tinggi, dapat terjadi ruptur membrana timpani dan nanah keluar mengalir dari telinga tengah ke telinga bagian luar. Pasien yang semula gelisah menjadi tenang, suhu badan turun dan dapat tidur nyenyak.
e.    Stadium Resolusi
            Bila membrana timpani tetap utuh, maka akan normal kembali. Bila terjadi perforasi, maka sekret akan berkurang atau mengering. Bila daya tahan tubuh baik dan virulensi kuman rendah maka resolusi dapat terjadi tanpa pengobatan. OMA berubah menjadi otitis media supuratif subakut bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul lebih dari 3 minggu. Disebut OMSK bila lebih dari 1,5 atau 2 bulan. Dapat meninggalkan gejala sisa berupa rasa penuh atau kurang dengar.
4.    Pemeriksaan Diagnostik OMA
Pemeriksaan diagnostik OMA, antara lain :
a.    Pemeriksaan otoskopik pneumatik menunjukkan membrana timpani yang penuh, menonjol dengan kerusakan mobilitas.
b.    Spesimen rabas telinga (dari membrana timpani yang ruptur) untuk kultur dapat membantu identifikasi organisme penyebab.
c.    Sinar X pada area mastoideus menunjukkan kondisi mastoideus patologik, misalnya kolesteatoma atau kekaburan sel-sel mastoideus.

5.    Asuhan Keperawatan Pasien Dengan OMA

a.    Pengkajian
1)        Nyeri, biasanya merupakan tanda-tanda awal penyakit akut
2)        Demam (dapat mencapai 40 0C sampai 60 0C)
3)        Eritema pasca auricular dan edema pada penyakit kronik
4)        Terdapat drainase purulen (otorrhea) jika membrane timpani mengalami perforasi dan juga timbul bau
5)        Nyeri dan nyer tekan pada prosesus mastoideus
6)        Penurunan/tak ada ketajaman pendengaran pada satu atau kedua telinga
7)        Tinitus
8)        Perasaan penuh pada telinga
9)        Suara bergema dari suara sendiri
10)    Bunyi “letupan” sewaktu menguap atau menelan
11)    Vertigo, pusing, gatal pada telinga
12)    Penggunaan minyak, kapas lidi, peniti untuk membersihkan telinga
13)    Penggunanaan obat (streptomisin, salisilat, kuirin, gentamisin)
14)    Kemampuan membaca bibir atau memakai bahasa isyarat
15)    Reflek kejut
16)    Toleransi terhadap bunyi-bunyian keras
17)    Cairan telinga; hitam, kemerahan, jernih, kuning
18)    Alergi
19)    Dengan otoskop tuba eustachii bengkak, merah, suram
20)    Adanya riwayat infeksi saluran pernafasan atas, infeksi telinga sebelumnya

b.   Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatannya antara lain:
1)   Nyeri berhubungan dengan proses peradangan pada telinga
2)   Resiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pengobatan
3)   Resiko tinggi injury berhubungan dengan penurunan persepsi sensori

c.    Intervensi

1)   Penatalaksanaan Medis OMA
            Penatalaksanaan otitis media akut bergantung pada efektifitas terapi (misalnya dosis antibiotika oral yang diresepkan dan durasi terapi), virulensi bakteri dan status fisik pasien. Dengan terapi antibiotika spektrum luas yang tepat dan awal, otitis media dapat hilang tanpa gejala sisa yang serius. Bila terjadi pengeluaran cairan, biasanya perlu diresepkan  preparat antibiotika. Kondisi bisa berkembang menjadi sub akut (misalnya berlangsung 3 minggu sampai 3 bulan), dengan pengeluaran cairan purulen menetap di telinga. Jarang sekali terjadi kehilangan pendengaran permanen.
            Penatalaksanaan OMA pada prinsipnya memberikan terapi medikamentosa yang tergantung pada stadium penyakitnya. Stadium tersebut antara lain :
a)    Stadium Oklusi
            Pada stadium ini, pengobatan terutama bertujuan untuk membuka kembali tuba eustachii, sehingga tekanan negatif di telinga tengah hilang. Untuk ini diberikan obat tetes hidung, HCl efedrin 0,5% atau HCl 1% dalam larutan fisiologik. Di samping itu, sumber harus diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab infeksi adalah kuman bukan oleh virus atau alergi.
b)   Stadium Presupurasi
            Pada stadium ini, antibiotika, obat tetes dan analgetika perlu diberikan. Bila membrana timpani sudah terlihat hiperemis difus, sebaiknya dilakukan miringotomi (insisi pada membrana timpani). Antibiotika yang di anjurkan adalah dari golongan penisilin dan ampisilin. Pemberian antibiotika dianjurkan minimal selama 7 hari. Bila pasien alergi terhadap penisilin maka berikan eritromisin.
c)    Stadium Supurasi
            Di samping diberikan antibiotika, idealnya harus disertai dengan miringotomi bila membrana timpani masih utuh. Dengan miringotomi, gejala-gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari. Pengobatan yang diberikan adalah obat cuci telinga H2O2 selama 3-5 hari serta antibiotika yang adekuat.
d)   Stadium Perforasi
            Diberikan obat tetes telinga H2O2 3% selama 3-5 hari serta antibiotika selama 3 minggu, biasanya sekret akan hilang dan perforasi akan menutup dalam 7-10 hari.
e)    Stadium Resolusi
            Pada stadium ini, jika terjadi resolusi maka membrana timpani berangsur normal kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membrana timpani menutup. Tetapi bila tidak terjadi resolusi, akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui membrana timpani. Pada keadaan demikian, antibiotika dilanjutkan sampai 3 minggu.
2)   Penatalaksanaan Keperawatan OMA
Penatalaksanaan keperawatan OMA antara lain :
a)    Memberikan posisi yang nyaman karena dapat mengurangi nyeri
b)   Kompres panas di telinga bagian luar untuk mengurangi nyeri
c)    Kompres dingin untuk mengurangi tekanan telinga
d)   Kolaborasi pemberian analgetik dan antibiotic
e)    Mengkaji tanda-tanda perluasan infeksi, mastoiditis, vertigo untuk mengurangi perluasan lebih lanjut
f)    Jaga kebersihan pada daerah ling telinga untuk mengurangi pertumbuhan mikroorganisme
g)   Memantau status pendengaran secara teratur
h)   Memantau adanya peningkatan irritabilitas, demam, kaku leher, mual, muntah, yang mengindikasikan keterlibatan meningeal.

C. Otitis Media Kronik (OMK)
1.    Pengertian Otitis Media Kronik (OMK)
            Otitis media kronik adalah peradangan kronik yang mengenai mukosa dan struktur tulang di dalam kavum timpani. Otitis media kronik dapat dibagi menjadi dua, aktif dan inaktif. Aktif merujuk pada adanya infeksi dengan pengeluaran sekret telinga atau otorrhea akibat perubahan patologi dasar seperti kolesteatoma atau jaringan grsnulasi. Umumnya otorrhea pada otitis media kronik bersifat purulen (kental, putih) atau mukoid (seperti air dan encer) tergantung dari stadium peradangannya. Inaktif merujuk pada sekuele dari infeksi aktif terdahulu yang telah terbakar habis, dengan demikian tidak ada otorrhea. Pasien dengan otitis media kronik inaktif serngkali mengeluh gangguan pendengaran. Mungkin terdapat gejala lain seperti vertigo, tinitus atau suatu rasa penuh dalam telinga. Etiologi otitis media kronik disebabkan oleh kuman-kuman aerob dan anaerob, yaitu : Kuman aerob ; Gram positif : S. pyogenes, S. albus, Gram negatif : Proteus spp, Pseudomonas spp, E. coli. Kuman anaerob : Bakteroides spp.
2.    Patofisiologi Otitis Media Kronik (OMK)
            Pada OMA yang tidak diobati dengan baik dan adekuat, bisa terjadi otitis media kronik (OMK). Diduga tuba eustachii tidak berhasil membuka secukupnya sehingga tekanan udara di ruang kedua sisi gendang telinga tengah lebih rendah daripada telinga luar. Otitis media yang berulang akan menghancurkan pars lensa dan tulang pendengaran , luasnya kerusakan tergantung dari berat dan seringnya penyakit kambuh. Prosesus longus inkus menderita paling dini karena aliran darah ke daerah ini berkurang. Infeksi sekunder oleh bakteria dari liang telinga luar menyebabkan keluarnya cairan yang  menetap.


3.    Manifestasi Klinis Otitis Media Kronik (OMK)
a.    Peradangan kronis pada telinga tengah, otitis media berlanjut
b.    Tuli, kadang-kadang sakit, pusing
c.    Tekanan negatif ditelinga tengah
d.   Tersumbatnya eustachii
e.    Udara ke ruang tengah terhambat
f.     Keluar sekret terus menerus atau hilang timbul
g.    Sekret mungkin encer atau kental, bening atau nanah dan berlangsung selama lebi 2 bulan.
      
4.    Pemeriksaan Diagnostik OMK

a.    Audiometri dapat dilakukan untuk mengevaluasi adanya tuli konduktif pada penyakit kronik.
b.    X ray menunjukkan kondisi patologik.
c.    Melakukan uji reaksi penderita untuk mengukur dan menentukan lokasi ketulian.
d.   Melakukan uji reaksi penderita terhadap suara percakapan dengan : uji weber, rinne test, pemeriksaan audiogram, pemeriksaan radiologi.

5. Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan OMK
a.  Pengkajian OMK
1)      Riwayat kesehatan sekarang, kapan keluhan mulai berkembang, bagaimana terjadinya, apakah secara tiba-tiba atau berangsur-angsur, apa tindakan yang dilakukan untuk mengurangi keluhan, apa yang digunakan, adakah keluhan seperti pilek dan batuk.
2)      Riwayat kesehatan masa lalu. Apakah ada kebiasaan berenang, apakah pernah menderita gangguan pendengaran (kapan, berapa lama, pengobatan apa yang dilakukan, bagaimana kebiasaan membersihkan telinga, keadaan lingkungan (tenang, daerah isdustri, daerah populasi), apakah riwayat pada anggota keluarga.
3)      Inspeksi: keadaan umum, adakah cairan yang keluar dari telinga, bagaimana warna, bau, jumlah dan apakah ada tanda-tanda radang
4)      Nyeri dapat berkurang atau terdapat nyeri tumpul pada mastoideus.
5)      Kaji drainase telinga, keutuhan membrana timpani
6)      Kaji daerah mastoid
b. Diaknosa Keperawatan
1)      Hambatan komunikasi verbal yang behubungan dengan kesukaran memahami orang lain sekunder akibat kerusakan pendengaran.
2)      Resiko hambatan interaksi sosial yang berhubungan dengan kesukaran berpartisipasi dalam percakapan.
3)      Ketakutan yang berhubungan dengan kehilangan pendengaran aktual atau potensial.
4)      Isolasi sosial yang berhubungan dengan kurangnya kontak dengan orang lain sekunder akibat ketakutan dan keadaan yang memalukan karena  kehilangan pendengaran.
5)      Nyeri akut yang berhubungan dengan inflamasi, infeksi, tinitus dan vertigo.



c. Intervensi
1)      Penatalaksanaan Medis OMK
            Penanganan lokal meliputi pembersihan hati-hati telinga dengan menggunakan mikroskop dan alat pengisap. Pemberian tetes antibiotika atau pemberian bubuk antibiotika sering membantu bila ada cairan purulen. Antibiotika sistemik biasanya tidak diresepkan kecuali pada kasus infeksi akut.

            Berbagai prosedur pembedahan dapat dilakukan bila dengan penanganan obat tidak efektif. Yang paling sering adalah timpanoplasti, rekonstruksi bedah membrana timpani dan osikulus. Tujuannya adalah untuk mengembalikan fungsi telinga tengah, menutup lubang perforasi telinga tengah, mencegah infeksi berulang dan memperbaiki pendengaran.
Mastoidektomi, tujuan pembedahan mastoid adalah untuk mengangkat kolesteatoma, mencapai struktur yang sakit dan menciptakan telinga yang aman, kering dan sehat.

2)      Penatalaksanaan Keperawatan OMK
a)        Memberikan analgetik dan kompres dingin pada area untuk mengurangi nyeri.
b)        Mengganti balutan pada daerah luka.
c)        Obsevasi tanda-tanda vital untuk mengawasi penyebaran infeksi.
d)       Memberikan sedatif secara hati-hati agar da[at istirahat (kolaborasi).
e)        Memantau status pendengaran secara teratur.
f)         Mengawasi keadaan yang dapat menyebebkan injury nervus vacial.
g)        Mengkaji pasien yang mengalami vertigo setelah operasi.
h)        Memeriksa adanya hambatan bicara dan bahasa pada anak kecil dengan interval yang teratur akibat kerusakan pendengaran.

D. Manner Disease
1. Pengertian Manner Disease (penyakit maniere)
            Penyakit maniere dinamakan sesuai dengan nama seorang dokter Perancis, Prosper Maniere, yang pada tahun 1861 pertama kali menerangkan trias gejala (vertigo tak tertahan episodik, tinitus dan kehilangan pendengaran sensorineural berfluktuasi). Penyakit manner masat kini dianggap sebagai keadaan dimana terjadi ketidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal yang disebabkan oleh malabsorbsi dalam sakus endolimfatikus. Namun, ada bukti menunjukan karena ada sumbatan duktus limfatikus. Apapun penyebabnya, selalu terjadi hidrops endolimfatikus yang merupakan pelebaran ruang endolimfatikus. Terdapat berbagai gangguan yang menyerupai manner disease, seperti trauma, infeksi, alergi, fistula perilimfe dan otosklerosis .
2. Patofiologi Manner Disease
            Penyakit manner disease bisa disebabkan oleh pengaruh neurokimia dan hormonal. Abnormal pada aliran darah yang menuju ke labirin, gangguan elektrolit dalam cairan labirin, reaksi alergi dan gangguan auto imun. Penyakit manner dalah keadaan dimana terjadi ketaidakseimbangan cairan telinga tengah yang abnormal disebabkan oleh malabsorbsi prosedur dekstruktif (labirin dektomi atau neuroktomi saraf vestibular) mungkin dibutuhkan untuk memberikan pengurangan. Hal ini menyebabkan ketulian total pada telinga yang sakit.
3. Manifestasi Klinik Manner Disease
a.    Gejalanya berupa serangan vertigo tak tertahankan episodik yang sering disertai mual dan muntah, yang berlangsung 3-24 jam dan kemudian menghilang perlahan.
b.    Secara periodik, penderita merasakan telinganya penuh atau merasakan adanya tekanan dalam telinga.
c.    Kehilangan pendengaran sensorineural progresif dan fluktuatif. Tinitus bisa menetap atau hilang timbul dan semakin memburuk sebelum, setelah atau selama serangan vertigo.
d.   Pada kebanyakan penderita, penyakit ini hanya menyerang satu telinga. Pada 10%-15% penderita, penyakit ini menyerang kedua telinga.
4. Pemeriksaan Diaknostik Manner Disease
a.       Pemeriksaan fisik biasanya normal kecuali pada evaluasi nervus kranial VIII.
b.      Uji weber akan menunjukan lateralisasi kesisi berlawanan dengan sisi yang terkena penyakit manner.
c.       Test elektronistagmografi (ENG) membantu membedakan penyakit manner dari lesi intrakranial. Tes ini mengevaluasi refleks vestibulo okular.
d.      Tes audiometri untuk mengevaluasi untuk kehilangan pendengaran sensorineural.
e.       Diagnosa biasanya didasarkan pada riwayat besama dengan hasil prosedur diagnostik audiovestibular.
f.       Pemindai CT, MRI dapat digunakan untuk mengesampingkan tumor.
5. Asuhan Keperwatan pada Pasien dengan Manner Disease
Asuhan keperawatan pada pasien dengan manner disease, antara lain :
a.    Pengkajian

1)   Serangan pusing yang tiba-tiba dimana pasien merasakan sensasi berputar (vertigo), serangan dapat berlangsung 10 menit sampai beberapa jam.
2)   Tinitus dan penurunan pendengaran terjadi pada sisi yang terkena.
3)   Pasien mengeluh sakit kepala, mual, muntah, dan ikoordinasi.

b.   Diaknosa keperawatan

1)   Gangguan rasa nyaman sehubungan dengan proses penyakit.
2)   Perubahan persepsi terhadap rangsang berhubungan dengan hilangnya pendengaran.
3)   Kurang pengetahuan tentang proses penyakit dan pelaksanaan perawatan dirumah sakit.
4)   Potensial terjadinya kecelakaan sehubungan dengan hilangnya pendengaran.
5)   Nyeri berhubungan dengan proses peradangan.
6)   Gangguan berkomunikasi berhubungan efek kehilangan pendengaran.
7)   Perubahan persepsi/sensori berhubungan dengan obstruksi, infeksi di telinga tengah atau kerusakan di saraf pendengaran.
8)   Resiko tinggi trauma berhubungan dengan gangguan persepsi pendengaran.
9)   Kurangnya pengetahuan mengenai pengobatan dan pencegahan kekambuhan.

c.    Intervensi

1)   Penatalaksanaan Medis Manner Disease

a)    Asetasolamid, supresan vestibular dan diuretik. Dapat menurunkan gejala jika serangan sudah jarang.
b)   Antihistamin, diazepam antiemetik juga dapat digunakan untuk mengendalikan gejala.
c)    Kortikosteroid dapat digunakan untuk mencoba menyelamatkan pendengaran.
d)   Jika terapi obat tidak efektif, pendekatan konservatif melibatkan mendekompresi kantong endolimfatik atau menanam pirau subaraknoid untuk mengurangi gejala tanpa merusak fungsi vestibular.
e)    Prosedur destruktif (labirin tektomi neuroktomi saraf vestibular) mungkin dibutuhkan untuk memberikan pengurangan. Hal ini menyebabkan ketulian total pada telinga sakit.

2)   Penatalaksanaan Keperawatan Manner Disease

a)    Membantu pasien mengenali gejala untuk memberikan waktu mempersiapkan diri untuk serangan dan membantu pasien untuk mengidentifikasi faktor pencetus yang spesifik umtuk mengendalikan serangan.
b)   Menganjurakan pasien untuk berbaring diam ditempat yang aman selama serangan.
c)    Jika ada reaksi alergi terhadap makanan, hilangkan makanan tersebut dari diet.
d)   Menghindari kebisingan dan silau karena dapat menimbulkan serangan.
e)    Mengajari pasien tentang program pengobatan, pencetus dan keparahan gejala.
f)    Mengajari pasien untuk waspada terhadap petunjuk-petunjuk sensoris lingkungan lainnya (visual, olfaktorius, taktil) jika pendengaran terganggu.
g)   Mengendalikan faktor lingkungan dan kebiasaan personal stres dan keletihan.

E. Evaluasi pada pasien OMA, OMK dan Manner Disease
1. Ansietas terhadap prosedur pembedahan berkurang
a.       Mengungkapkan dan memperlihatkan pengurangan stres, ketegangan dan peka rangsang.
b.      Memberi tahu perawat bahwa ia dapat menerima hasil pembedahan menyesuaikan kemungkinan gangguan pendengaran.
2. Bebas dari rasa tidak nyaman dan nyeri
a.       Tidak memperlihatkan tanda mengernyitkan wajah, mengeluh atau menangis
b.      Meminum analgetik bila perlu
3. Tidak ada tanda atau gejala infeksi
a.       TTV normal
b.      Tidak mengeluakan cairan purulen dari canalis auditorius eksternus
c.       Menggambarkan cara menghindarkan air kontaminasi balutan
4. Pendengaran stabil atau membaik
a.       Menerangkan sasaran pembedahan terhadap pendengaran dan bila sasaran telah tercapai
b.      Mengungkapkan bahwa suara yang tidak dapat terdengar sebelum operasi dapat didengar pada pascaoperasi
5. Menunjukan tidak ada cedera atau trauma akibat vertigo
a.       Melaporkan bahwa tidak menderita vertigo atau gangguan keseimbangan
b.      Tidak mengalami cedera atau jatuh
c.       Menyesuaikan lingkungan untuk menghindari jatuh (misal: lampu malam, tak ada pendakian atau tangga)
6. Tidak mengalami atau telah menyesuaikan terhadap perubahan persepsi sensori
a.       Tidak ada gangguan pengecapan, mulut kering atau lumpuh wajah
7. Memperlihatkan integritas kulit yang baik
a.       Menyusun cara yang dapat mencegah terlapasnya graft atau  prosthesis
b.      Mengungkapkan kembali pembatasan aktivitas dan mandi, mengangkat beban dan bepergian dengan pesawat terbang
8. Memahami (dibuktikan dengan percakapan) alasan dan metode perawatan atau tindakan
a.         Berbagi pengetahuan dengan keluarga mengenai protokol penanganan
b.        menerangkan penanganan dan kerangka waktu mengenai fase pemulihan
c.         Mendiskusikan rencana pemulangan yang telah disusun bersama perawat sesuai periode istirahat, obat dan aktifitas yang diperbolehkan dan dibatasi
d.        Menyebutkankan gejala yang harus dilaporkan kepada personel perawatan kesehatan
e.         Mematuhi perjanjian kunjungan tindak lanjut







Tidak ada komentar:

Poskan Komentar